Pengembangan Materi Bahan Ajar Pembelajaran Bahasa Indonesia
MAKALAH
PENGEMBANGAN MATERI BAHAN AJAR PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
Dosen pembimbing :
M. Bayu Firmansyah, M.Pd
Disusun Oleh :
Nama : Kunzita Lazuardy R.
NIM : 16188201036
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
STKIP PGRI PASURUAN
Jl. Ki Hajar Dewantara No. 27-29 Pasuruan
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat rahmat dan anugerah-Nya kami dapat menyelesaikan tugas individu mata kuliah Pembelajaran Bahasa Indonesia. Makalah Pengembangan Materi Pembelajaran Bahasa Indonesia ini saya buat dalam rangka menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Bapak Bayu Firmansyah M.Pd selaku dosen mata kuliah Pembelajaran Bahasa Indonesia.
Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu menyelesaikan makalah ini, khususnya kepada dosen mata kuliah ini selaku pembimbing kami. Kami sadar makalah ini jauh dari sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca agar kedepannya makalah ini dapat lebih baik lagi.
Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk kami khususnya dan bagi para pembaca umumnya.
Pasuruan, 13 Desember 2017
Penulis
|
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan kualifikasi
kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan,
keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia.
Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi peserta didik untuk memahami dan
merespon situasi lokal, regional, nasional, dan global.
Dengan standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia ini diharapkan:
peserta didik dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya kesastraan dan hasil intelektual bangsa sendiri;guru dapat memusatkan perhatian kepada pengembangan kompetensi bahasa peserta didik dengan menyediakan berbagai kegiatan berbahasa dan sumber belajar; guru lebih mandiri dab leluasa dalam menentukan bahan ajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta didiknya orang tua dan masyarakat dapat secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program kebahasaan dan kesastraan di sekolah; sekolah dapat menyusun program pendidikan tentang kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan keadaan peserta didik dan sumber belajar yang tersedia; dan daerah dapat menemukan bahan dan sumber belajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi dan kekhasan daerah dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional.
peserta didik dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya kesastraan dan hasil intelektual bangsa sendiri;guru dapat memusatkan perhatian kepada pengembangan kompetensi bahasa peserta didik dengan menyediakan berbagai kegiatan berbahasa dan sumber belajar; guru lebih mandiri dab leluasa dalam menentukan bahan ajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta didiknya orang tua dan masyarakat dapat secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program kebahasaan dan kesastraan di sekolah; sekolah dapat menyusun program pendidikan tentang kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan keadaan peserta didik dan sumber belajar yang tersedia; dan daerah dapat menemukan bahan dan sumber belajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi dan kekhasan daerah dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional.
1.2
Rumusan Masalah
1)
Apa
yang dimaksud bahan ajar?
2) Bagaimana
permasalahan
dalam pengembangan
materi
PBI?
3) Apa
saja bahan
ajar
dan jenis-jenisnya?
4) Bagaimana
langkah-langkah
pemilihan
bahan
ajar?
5) Bagaimana
cara penentuan cakupan dan urutan
bahan
ajar?
6) Apa
saja sumber bahan ajar?
7) Bagaimana
strategi mempelajari bahan ajar oleh pembelajar?
8) Bagaimana
pendalaman bahan ajar bahasa Indonesia?
1.3
Tujuan
1)
Mengetahui
pengertian bahan ajar.
2) Mengetahui
permasalahan dalam pengembangan materi PBI.
3) Mengetahui bahan
ajar dan jenis-jenisnya.
4) Mengetahui langkah-langkah
pemilihan bahan ajar.
5) Mengetahui
cara penentuan cakupan dan urutan bahan ajar.
6) Mengetahui
sumber bahan ajar.
7) Mengetahui
strategi mempelajari bahan ajar oleh pembelajar.
8)
Mengetahui pendalaman bahan ajar bahasa
Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Bahan Ajar
Sebelum memilih dan mengembangkan bahan ajar bahasa Indonesia prosedur
utama yang harus dipenuhi adalah dilakukan analisis Standar Kompetensi dan
Kompetensi Dasar Dengan memperhatikan analisis Standar Kompetensi dan
Kompetensi Dasar, bahan ajar yang dipilih akan lebih rinci, jelas, benar dalam
memfasilitasi peserta didik mencapai tujuan secara optimal, serta menghindari
dipilihnya bahan ajar yang kurang relevan dengan Standar Kompetensi dan
Kompetensi Dasar yang akan dicapai.
Dalam
melakukan proses pembelajaran diperlukan bahan ajar. Bahan ajar yaitu
seperangkat materi yang disusun secara sistematis baik tertulis maupun tidak
tertulis sehingga tercipta lingkungan/suasana yang memungkinkan siswa untuk
belajar. Bahan ajar berisi materi pembelajaran yang terdiri dari pengetahuan,
keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai
standar kompetensi yang telah ditentukan. Sedangkan pengembangan bahan ajar
merupakan upaya penyusunan bahan ajar baik yang berupa bahan tertulis maupun
tidak tertulis oleh guru untuk menunjang kegiatan belajar mengajar di kelas.
2.2 Permasalahan
dalam pengembangan
materi
PBI
Sebenarnya para guru sudah akrab dengan materi
pembelajaran bahasa Indonesia yang harus diajarkan. Apa pun kurikulumnya, dan
apa pun acuan terorinya, pembelajaran bahasa menyangkut 4 keterampilan, yaitu
keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis baik dalam bidang
bahasa maupun sastra. Di samping itu, materi kebahasaan yang diperlukan ketika
sedang mempelajari 4 keterampilan tersebut harus diintegrasikan ketika
pembelajaran keterampilan berlangsung.
Selain aspek materi, guru seharusnya juga sudah
terbiasa dengan metode, media, strategi, teknik yang harus digunakan dalam
membelajarkan materi. Guru seharusnya juga sudah erbiasa membuat persiapan
mengajar. Berkenan dengan pemilihan bahan ajar, secara umum masalah yang
dimaksud meliputi: (1) cara penentuan jenis materi, kedalaman, ruang lingkup,
urutan penyajian, perlakuan (treatment) terhadap materi pembelajaran, dan
sebagainya. (2) masalah lain yang berkenaan dengan bahan ajar adalah memilih
sumber di mana bahan ajar itu didapatkan. Ada kecenderungan sumber bahan ajar
selain buku yang digunakan. Buku pun tidak harus satu macam dan tidak harus
sering berganti seperti selama ini. Berbagai buku dapat dipilih sebagai sumber
bahan ajar.
2.3 Bahan ajar dan Jenis-jenisnya
Bahan
ajar atau materi pembelajaran (instructional materials) secara garis besar terdiri atas pengetahuan,
keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari pembelajar dalam rangka mencapai
standar kompetensi yang telah ditentukan.
Jenis-jenis
materi
pembelajaran terdiri atas pengetahuan (fakta, konsep, prinsip, prosedur),
keterampilan, dan sikap atau nilai.
·
Teori yang sudah mapan dan keberadaannya
tidak lagi terbantah.
·
Teori baru yang sedang hangat dibicarakan
tetapi sudah cenderung untuk diterima sebagai kebenaran.
·
Fenomena-fenomena baru yang sedang menjadi
isu mutakhir, tetapi dapat merangsang tumbuhnya berpikir pembelajar.
2.4 Langkah-Langkah Pemilihan Bahan Ajar
Langkah-langkah pemilihan bahan ajar sebagai berikut:
1.
Mengidentifikasi aspek-aspek yang terdapat
dalam standar kompetensi dan kompotensi dasar.
2.
Identifikasi jenis-jenis materi
pembelajaran yaitu
Materi pembelajaran dapat dibedakan menjadi jenis materi aspek kognitif,
afektif, dan psikomotorik.
3.
Memilih materi yaitu Hal yang perlu
diperhatikan adalah jumah atau ruang lingkup yang cukup memadai sehingga
mempermudah pembelajar dalam mencapai standar kompetensi.
2.5 Penentuan Cakupan Dan Urutan Bahan Ajar
Ketepatan
dalam menentukan cakupan, ruang lingkup, dan kedalaman materi pembelajaran akan
menghindarkan guru dari mengajarkan terlalu sedikit atau terlalu banyak,
terlalu dangkal atau terlalu mendalam. Ketepatan urutan penyajian (sequencing)
akan memudahkan bagi pembelajar mempelajari materi pembelajaran.
1. Penentuan
cakupan bahan ajar
Dalam menentukan cakupan atau ruang
lingkup materi pembelajaran harus diperhatikan apakah materinya berupa aspek
kognitif (fakta, konsep, prinsip, prosedur) aspek afektif , ataukah aspek
psikomotorik, sebab nantinya jika sudah dibawa ke kelas, masing-masing jenis
materi tersebut memerlukan strategi dan media pembelajaran yang berbeda-beda.
Selain memperhatikan jenis materi
pembelajarn juga harus memperhatikan prinsip-prinsip yang perlu digunakan dalam
menentukan cakupan materi pembelajaran yang menyangkut keluasan dan kedalam
materinya. Cakupan atau ruang lingkup materi perlu ditentukan untuk mengetahui
apakah materi yang harus dipelajari oleh murid terlalu banyak, terlalu sedikit,
atau telah memadai sehingga sesuai dengam kompetensi dasar yang ingin dicapai.
2. Penentuan
urutan bahan ajar
Tanpa urutan yang tepat, jika di antara
beberapa materi pembelajaran mempunyai hubungan yang berrsifat prasyarat akan
menyulitkan pembelajar dalam mempelajarinya. Materi pembelajaran yang sudah
ditentukan ruang lingkup serta kedalamannya dapat diurutkan melalui dua
pendekatan pokok yaitu:
a. Pendekatan
prosedural
b. Pendekatan
hierarkis
2.6 Sumber
Bahan Ajar
Sumber bahan ajara adalah
temapt dimana bahan ajar dapat diperoleh. Dalam mencari sumber bahan ajar,
pembelajaran dapat dilibatkan untuk mencarinya. Misalnya, pembelajar ditugasi
untuk mencari koran, majalah, hasil penelitian, dan sebagainnya. Beberapa
sumber yang dimaksud dapat disebutkan dibawah ini:
1. Buku
teks
2. Laporan
hasil penelitian
3. Jurnal
(penerbitan hasil penelitian dan pemikiran ilmiah)
4. Pakar
bidang studi
5. Profesional
6. Buku
kurikulum
7. Terbitan
berkala seperti harian, mingguan, dan bulanan
8. Internet
9. Media
audiovisual (TV, Video, VCD, kaset auditif)
10. Lingkungan
(alam, sosial, seni budaya, teknik, industri, ekonomi)
Adapun Salah satu hal yang
paling mudah dilakukan oleh guru untuk mencari bahan ajar adalah menemukan buku
teks. Dengan menggunakan strategi ini seorang guru tidak perlu terlalu banyak
berpikir untuk mendapatkan bahan ajar (Brown 1995). Dengan adanya buku teks,
guru akan lebih mudah melaksanakan pembelajaran. Akan tetapi, yang perlu
dipikirkan adalah bahan ajar-bahan ajar yang terdapat dalam buku teks sesuai
atau tidak dengan tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, konsep sumber bahan
ajar yang paling pokok adalah kesesuaian antara bahan ajar dengan tujuan
pembelajaran.
Sejauh
ini guru dalam pembelajaran di kelas selalu menggunakan buku teks sebagai
sumber utama. Akan tetapi, fokus utama yang dinyatakan dalam buku teks
tidak mampu memaparkan perbedaan keragaman kebutuhan yang tidak mungkin ada
dalam suatu kelas. Penggunaan satu buku teks oleh pemerintah atau pihak yang
berwenang dalam bidang pendidikan sering kali menemukan kontroversi,
penerbit banyak mengeluarkan waktu, upaya, serta uang untuk mempromosikan serta
menjaga kontraknya yang berkaitan dengan bahan ajar yang mereka kembangkan
(Nunan, 1995). Buku teks sebagai buku sumber ternyata memiliki kelemahan.
Kelemahan pertama adalah tidak mampu memaparkan perbedaan kebutuhan. Satu buku
teks jelas tidak akan mampu memberikan gambaran secara menyeluruh tentang
berbagai kebutuhan dalam pembelajaran. Hal tersebut karena adanya kebutuhan
pengajaran yang berbeda yang disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor
geografis bisa saja menjadi faktor penentu dalam pemaparan kebutuhan yang
berbeda.
Selain
tidak mampu memaparkan keragaman kebutuhan, buku teks juga mempunyai kelemahan
berupa kontroversi tentang usaha penerbit yang berupa ikatan kontrak untuk
mempertahankan bahan ajar yanng mereka kembangkan. Buku teks banyak ditulis
oleh para pakar di bidangnya dan kadang-kadang dipertahankan oleh penerbit.
Walaupun ditulis oleh pakar yang mumpuni kadang-kadang penyajiannya kurang
relevan dengan kebutuhan di lapangan. Oleh karena itu, sebaiknya buku
teks ditulis oleh guru yang berpengalaman di bidangnya.
Di
Indonesia buku teks begitu banyak diterbitkan. Hampir di seluruh daerah
mempunyai buku teks yang diterbitkan oleh penerbit setempat. Hal itu
menggambarkan betapa banyak bahan yang dapat dipilih oleh guru untuk
mengembangkan bahan ajar. Untuk pelajaran bahasa Indonesia, misalnya, hampir
penerbit-penerbit terkemuka menerbitkan buku pelajaran dengan cara mencari
penulis-penulis ahli di bidangnya. Hal itu dilakukan dengan berbagai cara untuk
mendapatkan pengesahan agar bukunya dapat dijadikan buku pegangan utama pada
sekolah tingkat tertentu.
Dari
sekian banyak buku teks yang diterbitkan banyak sisi kelemahan yang dapat
ditemukan salah satunya adalah tidak dapat dijadikan acuan di seluruh daerah.
Oleh karena itu, buku teks sebaiknya ditulis dan disahkan penggunaannya hanya
untuk daerah tertentu jika itu sangat diperlukan. Hal ini akan memudahkan
penulisan yang akan disesuaikan dengan daerah pemakai buku tersebut.
Untuk
pengembangan bahan ajar, hendaknya pemerintah tidak mewajibkan salah satu buku
pegangan yang harus dipergunakan. Hal tersebut akan mengekang guru untuk
memodivikasi berbagai bahan ajar yang akan diajarkan. Dalam hal ini lebih baik
guru dituntut untuk berkreasi bagaimana cara pengembangan bahan ajar yang
dianggap baik dan mudah dilakukan oleh guru tersebut.
Buku
teks sebagai bahan ajar bahasa Indonesia untuk tingkat sekolah menengah banyak
beredar dari berbagai penerbit. Hal tersebut sangat menguntungkan guru untuk
mengadakan pengembangan bahan ajar. Akan tetapi, di sisi lain buku teks
tersebut ada yang diasumsikan oleh guru bahwa hanya salah satu dari sekian
banyak buku teks yang digunakan. Hal
itu terjadi karena buku teks tersebut mendapat persetujuan dari lembaga
pemerintah untuk dipergunakan di sekolah-sekolah.
Buku
teks pelajaran bahasa Indonesia banyak diterbitkan. Oleh karena itu, untuk
mengembangkan bahan ajar bahasa Indonesia sangat mudah bila ditinjau dari
banyaknya bahan ajar yang dapat dikemas menjadi satu model bahan ajar hasil
pengembangan. Dengan demkian, guru dituntut untuk dapat
mengembangkan berbagai potensi yang ada dalam dirinya untuk mengembangkan bahan
ajar. Bagaimanapun banyaknya buku teks tanpa kehadiran guru sebagai pengembang
tidak ada artinya. Karena itulah sebaiknya buku teks ditulis, dikembangkan, dan
direvisi oleh guru sebagai tim pengembang bahan ajar.
2.7 Strategi Mempelajari Bahan Ajar Oleh Pembelajar
1)
Menghafal
(Verbal & parafrasa)
Ada dua jenis menghafal yaitu menghafal verbal dan
menghafal parafrase. Menghafal verbal adalah menghafal persis apa adanya. Dan
menghafal parafrase adalah materi pembelajaran yang tidak harus dihafal persis
seperti apa adanya tetapi dapat diungkapkan degan bahasa atau kalimat sendiri.
2)
Menggunakan/mengaplikasikan
(Use)
Materi pembelajaran setelah dihafal atau dipahami
kemudian digunakan atau diaplikasikan. Jadi dalam proses pembelajaran
pembelajar perlu memiliki kemampuan untuk menggunakan, menerapkan atau
mengaplikasikan materi yang telah dipeljari.
3)
Menemukan
Yang dimaksud penemuan (finding) adalah menemukan cara
memecahkan masalah-masalah baru dengan menggunakan fakta, konsep, prinsip, dan
prosedur yang telah dipelajari.
4)
Memilih
materi
Yang dimaksudkan dengan memilih di sini adalah memilih
untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Misalnya membaca novel daripada
membaca tulisan ilmiah. Memilih menaati peraturan lalu lintas tetapi terlambat
masuk sekolah atau memilih melanggar tetapi tidak terlambat, dan sebagainya.
2.8 Pendalaman Bahan Ajar Bahasa Indonesia
Berbahasa memerlukan kaidah,
meskipun tidak secara eksplisit diungkapkan, kaidah bahasa harus menjadi bagian
tak terpisahkan dalam pembelajaran bahasa. Oleh karena itu, aspek kebahasaan
(aspek ejaan, fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, maupun pragmatik) harus
mendapat porsi memadai untuk mengembangkan kompetensi pembelajar. Secara
sekilas setiap butir materi akan dibahas di bawah ini.
1.
Keterampilan
mendengarkan
Ketika
berkomunikasi lisan, seseorang harus mampu menangkap informasi yang disampaikan
oleh penutur. Informasi yang dimaksud bukan sekedar informasi yang terucapkan
tetapi juga informasi yang tidak terucapkan tetapi tersirat dalam
berkomunikasi.
2.
Keterampilan
berbicara
Keterampilan
berbicara merupakan kemampuan mengungkapkan gagasan menggunakan bahasa lisan.
Materi yang harus diajarkan mencakup benyak hal, misalnya diskusi, wawancara,
memperkenalkan diri, bercerita, dan sebagainya.
3.
Keterampilan
membaca
Keterampilan
membaca merupakan kemampuan menangkap informasi yang disampaikan melalui bahasa
tulis (wacana tulis). Kemampuan membca membahas kemampuan membaca cepat
(scanning, scimming, membaca ekstensif), membaca intensif (membaca kritis,
membaca pemahaman), membaca kritis, dan sebagainya).
4.
Keterampilan menulis
Kemampuan
menulis merupakan kemampuan mengungkapkan gagasan menggunakan bahasa tulis.
Materi yang harus diajarkan mencakup menulis dengan topik tertentu yang
menarik, menulis pengumuman, menulis berita, menulis karya ilmiah sederhana,
mengungkapkan informasi dalam berbagai bentuk paragraf (naratif, deskriptif,
ekspositif, argumentatif).
BAB III
PENUTUP
3.1
Simpulan
Kesusuaian
bahan ajar dengan tujuan dan pembelajaran merupakan hal pokok dalam
pengembangan bahan ajar. Dengan demikian akan mudah pengembangan bahan ajar
yang dilakukan jika buku sumber yang digunakan sesuai dengan tujuan dan pembelajaran
yang akan dilakukan. Selain
itu pengembangan bahan ajar juga dapat dilakukan melalui metode yang
dikembangkan dalam pembelajaran. Metode pembalajaran sangat menentukan ke arah
mana bahan ajar tersebut akan dikembangkan. Selain metode, media juga dapat
digunakan sebagai sarana pengembangan bahan ajar. Dengan media penggunaan yang
tepat pengembangan bahan ajar akan mudah dilakukan.
Puncak
pengembangan bahan ajar adalah dilakukannya evaluasi terhadap bahan ajar. Bahan
ajar-bahan ajar yang akan diajarkan dapat dievaluasi saat disusun, diajarkan,
dan diketahui hasil dari proses pembelajaran. Dengan adanya evaluasi
pengembangan bahan ajar akan mudah dilakukan oleh guru sebagai pengembang bahan
ajar.
3.2
Saran
1)
Bagi Mahasiswa
Dalam
penulisan makalah yang berjudul Pengembangan Materi Pembelajaran Bahasa Indonesia, penulis
mengharapkan agar seluruh mahasiswa mengerti dan memahami mengenai hal tersebut dalam PBI.
2)
Bagi Dosen
Dalam
penulisan makalah yang berjudul Pengembangan
Materi Pembelajaran Bahasa Indonesia, penulis mengharapkan agar
kedepannya mata kuliah Metode Pembelajaran Bahasa Indonesia menjadi lebih baik
karena banyaknya literatur yang digunakan.
3)
Bagi Perspustakaan
Dalam
penulisan makalah yang berjudul Pengembangan Materi Pembelajaran Bahasa Indonesia, penulis
dituntut untuk banyak membaca serta mengumpulkan beberapa informasi. Akan
tetapi karena kurangnya literatur yang ada di perpustakaan sendiri, maka lebih
mempersulit lagi dalam mencari sumber. Penulis mengharapkan agar perpustakaan
menambah literatur untuk mempermudah dalam mencari informasi serta sumber.
DAFTAR PUSTAKA
Brown, J. D. (1995). The Elements of Language
Curriculum Development. Boston: An International Thomson Publishing Company
Nunan, D. ( 1995). Language Teching
Methodology. New York: Prentice Hall
Pranowo. 2015. Teori Belajar Bahasa.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Coin Casino is BLACKLISTED in the US in 2021? - CasinoWow
BalasHapusCoin 인카지노 Casino is BLACKLISTED. 1xbet korean Sign up หารายได้เสริม and play ⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐